14 August 2006

Hoax? Editor Koran Kartun Nabi Tewas Terbakar

Dari beberapa milis yang saya ikuti dan menayangkan berita terbakarnya editor koran Denmark Jyllands-Posten, yang memuat karikatur Nabi Muhammad, saya amati rantai penyampaian berita adalah sebagai berikut:
  • koran Saudi (tidak disebutkan namanya)
  • the Nations, Pakistan (dalam bahasa Inggris), tidak menyebutkan nama koran Saudi yang dikutipnya
  • terjemahan bahasa Indonesia (dari The Nations) mulai muncul di milis-milis (partai-islam@, keluarga-sejahtera@, Muhammadiyah_Society@, ....)
  • hidayatullah.com, Rabu, 09 Agustus 2006
  • Pos kota, seperti yang diforward pak HMNA
Semenjak dikirim ke milis2, terlontar pertanyaan atas kebenaran berita tersebut, karena
  • tidak ada media selain The Nations yang memuatnya, sekalipun The Nations ataupun koran Saudi tersebut berusaha meyakinkan pembaca dengan teori konspirasi pemerintah Denmark menyembunyikan kejadian tersebut. Mengingat Jylland-Posten media besar di Denmark dan sedang dalam sorotan, kematian misterius editornya tentunya sangat sulit disembunyikan begitu saja.
  • isi berita: The Nations/koran Saudi tanpa nama menyebut nama editornya Eliott Back, tetapi sekaligus menyebutkan dia hanyalah mahasiswa sebuah universitas di Amerika. Sedangkan editor budaya Jylland Posten adalah Fleming Rose, yang sejak kasus kartun itu namanya kondang di mana-mana memberikan wawancara dan tulisan-tulisan klarifikasi di berbagai media lainnya.
  • keraguan sebenarnya terbersit dari berita the Nations tersebut, ditambah lagi dengan penjudulan oleh hidayatullah.com "Editor Surat Kabar 'Jyllands Posten' Mati Terbakar?" (tekanan pada tanda tanya)
  • metoda penyebaran berita:
"Teks-teks pesan serta email yang berisi berita bahwa kartunis telah terbakar hidup-hidup telah disebarkan sejak Selasa, untuk menguatkan laporan ini." (hidayatullah.com)
Ciri-ciri penyebaran hoax menggunakan modus seperti ini. Apalagi kalau versi the Nations berbeda dengan versi Hidayatullah dan versi Pos Kota, berarti ada penambahan atau pengurangan di rantai berita. Ini bukan caranya untuk "menguatkan" laporan.

Dengan banyaknya keraguan seperti ini, seharusnya pihak pembawa berita yang meyakinkan pembaca bahwa laporan ini bukan hoax, bukannya menuntut pembaca untuk membuktikan ini adalah hoax.

Original Post

06 August 2006

Italia Bangun Kawasan Pantai Khusus Wanita Muslim

Berita ini di satu pihak akan bikin iri wisatawan muslimah di pantai-pantai Ancol, Carita, Kenjeran, dan lain-lain di Indonesia, di pihak lain banyak yang akan geleng kepala melihat eksklusifitas muslimah Eropa.

Tetapi yang tidak disebutkan di berita ini:
sementara muslimah Italia terlindungi di pantai eksklusif mereka,di pantai mana para muslim Italia berjemur dan bermain ombak?
Kalau mereka tidak punya pantai khusus, apakah para lelaki ini akan pergi ke pantai biasa, bercampur dengan wisatawan-wisatawati beach-goers lainnya, lengkap dengan "pemandangan" yang biasa terlihat di pantai-pantai?

Ataukah ada double-standard dalam implementasi "larangan memperlihatkan" dengan "perintah menundukkan pandangan"?

Atau mudah-mudahan yang laki-laki ngga demen ke pantai, atau kalau ke pantai pakai kacamata gelap :-)

OOT: beberapa waktu lalu istri saya lihat situs ini dan cukup tertarik dengan "full body swimsuit" di situ. Yang rada bikin pusing harganya berkisar 50, 60 bahkan 75 dolar. Tapi begitu di mall lihat bikini, baju renang "biasa" ternyata ya rata-rata 20 dolaran, berarti yang "full-body" bener-bener "good deal" :-), murah dong ........

Terima kasih juga untuk rujukan situs-situs baju renang lainnya.

Original Post

20 June 2006

Kenangan World Cup: Main Sabun di Pertandingan Ketiga

Wakil Afrika itu sangat mengejutkan. Mereka menghempaskan juara dunia dua kali pada pertandingan pertama mereka di Piala Dunia dengan skor 2-1. Tetapi mereka tidak pernah menduga nasib mereka selanjutnya tidak sebaik pertandingan pertama.

Aljazair tampil sebagai debutan di PD 1982 di Spanyol, ditempatkan di grup 2 bersama Jerman Barat, Austria dan Cili. Dimotori Rabah Madjer, singa Afrika Utara menundukkan tim Panser 2-1. Seluruh dunia terkejut. Di pertandingan kedua mereka menyerah 0-2 kepada Austria, sedang Jerbar menundukkan Cili. Menjelang pertandingan ke-3, Austria memimpin grup dengan 4 poin, Jerbar 2, dan Aljazair 2. Sebagai catatan, saat itu kemenangan diberi 2 poin.

Tanggal 24 Juni 1982, Aljazair turun ke lapangan menghadapi Cili yang tanpa angka dan nyaris tidak ada harapan maju ke babak berikutnya. Madjer dan kawan-kawan membobol gawang Cili tiga gol di babak pertama. Tak dinyana, Cili masih menyimpan semangat dan membalas dua gol di babak kedua sehingga skor akhir 3-2. Aljazair kini punya poin 4 dan selisih gol 5-5. Mereka menunggu hasil pertandingan Jerbar dan Austria. Hasil seri atau kemenangan bagi Austria berarti tiket bagi Aljazair ke ronde kedua.

Dua negara tetangga, negeri serumpun Jerman dan Austria baru merumput sehari berikutnya 25 Juni 1982. Di menit ke-10 Jerman mencatat gol. 1-0. Tetapi apa lacur, setelah itu waktu bagaikan berhenti, 80 menit pertandingan tidak lagi menarik, kedua kesebelasan hanya menghabiskan waktu tanpa berniat membobol gawang lawan. Hasil akhir 1-0 untuk Jerman Barat. Ketika matahari terbenam, Jerman, Austria dan Aljazair semua punya 4 poin. Selisih gol bagi Jerman 6-3, Austria 3-1 dan Aljazair 5-5. Aljazair pun tersisih.

Kembali dunia terpana. Apa yang terjadi di stadion Gijon 25 Juni 1982? Banyak yang menduga Jerbar dan Austria bermain mata, bermain sabun atau berkonspirasi untuk menghasilkan skor yang cukup untuk menghantar keduanya masuk ke babak ke-2 dan menyisihkan simbol perlawanan dari Afrika. Kelak, Jerman bermain lebih baik menyisihkan Inggris di babak ke-2, mengalahkan Prancis di semifinal, walaupun akhirnya kalah dari Itali di babak final. Sekalipun demikian, kekalahan 1-2 dari Aljazair dan skandal sandiwara dengan Austria tetap tercatat dalam sejarah. Sejak saat itu FIFA menetapkan bahwa pertandingan ketiga babak grup harus dilakukan pada saat yang sama. Bayangkan seandainya partai Aljazair-Cili dan Jerbar-Austria dilangsungkan bersamaan, ketika Aljazair unggul 3-0, apakah Jerbar dan Austria akan tetap berleha-leha latihan oper-operan dan buang-buang bola?

25 May 2006

Berkat Fatwa Fukaha, Nikah Misyar Makin Populer

Setelah Majlis Fikih Islam (berafiliasi dengan Organisasi Konferensi Islam, OKI) menerbitkan fatwa "progresif" tentang Nikah Al-Misyar (sekali lagi bukan "misywar" seperti judul diskusi yang pernah lama berlangsung di sini), nikah model ini semakin populer.

Sekedar mengulang, nikah misyar ini:
suami-istri tidak tinggal bersama, suami tidak bertanggung jawab dalam nafkah.
Fatwa Majlis menyebutkan:
"akad nikah di mana pihak perempuan rela kehilangan hak tempat tinggal dan nafkah, dan bersedia dikunjungi oleh pihak laki-laki di rumah keluarganya kapan saja suaminya menginginkan, siang atau malam, ..... adalah SAH."
Saya masih kurang jelas detil teknis pernikahan ini. Selain seks, suami tidak punya tanggung jawab apapun. Bagaimana kalau menghasilkan anak? Bagaimana kalau salah satu pihak ingin mengakhiri kontrak, bagaimana prosedur talaknya, iddahnya?

Selain itu ternyata pihak perempuan masih bisa menentukan besarnya mahar dan "maintenance cost" bulanan (lho bedanya apa dengan nafkah?). Karena fatwa ini datang dari majlis "bona fide", akankah menjadi trendi di Indonesia?

Original Post

"Dead Woman Walking," Refleksi Penerapan Hudud di Saudi

Tulisan dari altmuslim ini merupakan refleksi dari penulisnya yang tengah menjalankan umrah ketika untuk pertama kalinya dia menyaksikan acara eksekusi terpidana perempuan pengedar narkotika di Saudi Arabia. Penulis mengulang ajakan Profesor Tariq Ramadan untuk moratorium (penghentian sementara) aplikasi hudud di negeri-negeri muslim sampai tercapainya konsensus agar implementasi syariat tidak melanggar prinsip-prinsip keadilan.

Adakah seruan Tariq Ramadan bergema di tengah-tengah penerapan hukuman cambuk di Aceh? Menyusul Bulukumba? Tangerang?

Original Post