09 May 2008

Solusi Simalakama Ahmadiyah

Lantang berkata, sang profesor hukum tata negara,
"Di Pakistan, Ahmadiyah itu sudah digolongkan sebagai non-Islam. Tempat ibadahnya tidak bernama masjid lagi. Tapi temple. Kalau kita memperlakukan hal sama, masalah Ahmadiyah selesai."
Solusi yang brilian.
Karena bukan masjid, maka membakar kuil tidak sama dengan membakar masjid.
Ahmadiyah difatwa kafir, maka jangan perbolehkan mereka salat dan puasa seperti kita, muslim sejati.
Mereka digolongkan Ahlul Kitab, maka laranglah mereka membaca al-Quran.
Malah jangan sembarangan mencatut nama "Ahmad,"
nama Nabi kita, Muhammad saw al-mustafa, yang mulia.
Agama Qadianiyah?
Mendingan, tapi jangan harap dengan segera diakui sebagai agama,
dapat tercantum di KTP, bisa dapat surat nikah.
Jangan pula memakai bahasa Arab, bahasa al-Quran al-Karim, untuk istilah-istilah kegiatannya,
pakailah bahasa Urdu dari mana asalnya.

Kalau segala larangan ini belum menyelesaikan masalah?
Jangan kuatir, kita punya mujahid-mujahid di garis depan,
"Bunuh, bunuh, bunuh!" teriak syaikh-syaikh kita yang jumawa.
Maka persoalan Ahmadiyah akan selesai dengan sendirinya,
ketika mereka kita lenyapkan.

Sayup-sayup terdengar, guru bangsa berujar,
"Mereka kaum minoritas yang perlu dilindungi dan saya tidak peduli mengenai ajarannya."
Siapa yang mau mendengarnya?

(*) Minoritas yang terlindungi.

Original Post

08 May 2008

Berbagi Suami ala North Carolina

Entah apa yang ada di benak Keron Wilkins. Meskipun resminya telah 8 tahun menikah dengan Chaka Miles, punya 2 anak, dan berdomisili di Clayton, North Carolina, diam-diam dia menikah lagi dengan Shanneta Stone dari Richmond, Virginia 20 Maret lalu. Tetapi sepandai-pandai tupai melompat, suatu kali akan jatuh juga. Demikian pula Keron yang berusaha dengan rapi menyimpan rahasianya, akhirnya menimbulkan kecurigaan pada kedua istrinya. Sekalipun Keron masih berusaha berkelit, justru Chaka dan Shanneta bekerja sama menjebak Keron dan laki-laki ini ditangkap polisi dengan tuduhan bigami. Keron sekarang tengah disidang dan bisa dikenai hukuman penjara sampai 10 bulan.

Rupanya ini bukan akhir cerita. Sementara berita bigami muncul ke permukaan, datanglah perempuan ketiga, Jenean Baker dari Atlanta, Georgia, yang terperanjat bukan buatan suaminya ternyata menikah dengan 2 perempuan lain. Suaminya juga Keron. Keduanya menikah 2005, walaupun Jenean tahun 2006 meninggalkan Keron tanpa bercerai. Alasannya Keron dicurigai berpacaran dengan perempuan lain, dan istri pertama Chaka juga berulangkali menelponnya.

Barangkali yang dipikir Keron, laki-laki mata keranjang ini, daripada selingkuh tidak resmi, mending nikah nyolong-nyolong saja. Hmmm, tidak dapat dibenarkan, dan tidak dapat dipahami ..... Mungkinkah Keron Wilkins ini sumber inspirasi film "Berbagi Suami?"

Update:
Sidang pengadilan menyatakan Keron Wilkins bersalah atas dakwaan bigami Selasa, 27 Mei 2008. Sebelumnya poligamor asal Clayton, North Carolina, ini mengaku bersalah menikahi Shanneta padahal berstatus telah menikah dengan Chaka. Hukuman yang dijatuhkan hakim berupa hukuman percobaan selama dua tahun. Tak pelak hukuman yang dirasa ringan ini tidak memuaskan istri kedua, Shanneta, yang menginginkan Keron dihukum lebih berat untuk pelanggaran hukum yang bisa diganjar sampai 10 bulan penjara ini. Belum lagi kemungkinan tuntutan serupa di negara bagian lain, karena Keron ditengarai menikahi TUJUH perempuan dalam saat yang bersamaan.

Original Post [1], [2]

11 September 2006

Muslimah Inggris Didiskriminasi Dalam Pekerjaan

Di negara "antah berantah" faktor-faktor sulitnya mendapatkan pekerjaan itu antara lain karena:
  1. perempuan
  2. etnis minoritas
  3. agama minoritas
Bayangkan betapa sulitnya kalau ke-3 faktor itu terpenuhi, seperti yang dialami muslimah keturunan Asia Selatan yang berbusana tradisional di Inggris.

Original Post

14 August 2006

Hoax? Editor Koran Kartun Nabi Tewas Terbakar

Dari beberapa milis yang saya ikuti dan menayangkan berita terbakarnya editor koran Denmark Jyllands-Posten, yang memuat karikatur Nabi Muhammad, saya amati rantai penyampaian berita adalah sebagai berikut:
  • koran Saudi (tidak disebutkan namanya)
  • the Nations, Pakistan (dalam bahasa Inggris), tidak menyebutkan nama koran Saudi yang dikutipnya
  • terjemahan bahasa Indonesia (dari The Nations) mulai muncul di milis-milis (partai-islam@, keluarga-sejahtera@, Muhammadiyah_Society@, ....)
  • hidayatullah.com, Rabu, 09 Agustus 2006
  • Pos kota, seperti yang diforward pak HMNA
Semenjak dikirim ke milis2, terlontar pertanyaan atas kebenaran berita tersebut, karena
  • tidak ada media selain The Nations yang memuatnya, sekalipun The Nations ataupun koran Saudi tersebut berusaha meyakinkan pembaca dengan teori konspirasi pemerintah Denmark menyembunyikan kejadian tersebut. Mengingat Jylland-Posten media besar di Denmark dan sedang dalam sorotan, kematian misterius editornya tentunya sangat sulit disembunyikan begitu saja.
  • isi berita: The Nations/koran Saudi tanpa nama menyebut nama editornya Eliott Back, tetapi sekaligus menyebutkan dia hanyalah mahasiswa sebuah universitas di Amerika. Sedangkan editor budaya Jylland Posten adalah Fleming Rose, yang sejak kasus kartun itu namanya kondang di mana-mana memberikan wawancara dan tulisan-tulisan klarifikasi di berbagai media lainnya.
  • keraguan sebenarnya terbersit dari berita the Nations tersebut, ditambah lagi dengan penjudulan oleh hidayatullah.com "Editor Surat Kabar 'Jyllands Posten' Mati Terbakar?" (tekanan pada tanda tanya)
  • metoda penyebaran berita:
"Teks-teks pesan serta email yang berisi berita bahwa kartunis telah terbakar hidup-hidup telah disebarkan sejak Selasa, untuk menguatkan laporan ini." (hidayatullah.com)
Ciri-ciri penyebaran hoax menggunakan modus seperti ini. Apalagi kalau versi the Nations berbeda dengan versi Hidayatullah dan versi Pos Kota, berarti ada penambahan atau pengurangan di rantai berita. Ini bukan caranya untuk "menguatkan" laporan.

Dengan banyaknya keraguan seperti ini, seharusnya pihak pembawa berita yang meyakinkan pembaca bahwa laporan ini bukan hoax, bukannya menuntut pembaca untuk membuktikan ini adalah hoax.

Original Post

06 August 2006

Italia Bangun Kawasan Pantai Khusus Wanita Muslim

Berita ini di satu pihak akan bikin iri wisatawan muslimah di pantai-pantai Ancol, Carita, Kenjeran, dan lain-lain di Indonesia, di pihak lain banyak yang akan geleng kepala melihat eksklusifitas muslimah Eropa.

Tetapi yang tidak disebutkan di berita ini:
sementara muslimah Italia terlindungi di pantai eksklusif mereka,di pantai mana para muslim Italia berjemur dan bermain ombak?
Kalau mereka tidak punya pantai khusus, apakah para lelaki ini akan pergi ke pantai biasa, bercampur dengan wisatawan-wisatawati beach-goers lainnya, lengkap dengan "pemandangan" yang biasa terlihat di pantai-pantai?

Ataukah ada double-standard dalam implementasi "larangan memperlihatkan" dengan "perintah menundukkan pandangan"?

Atau mudah-mudahan yang laki-laki ngga demen ke pantai, atau kalau ke pantai pakai kacamata gelap :-)

OOT: beberapa waktu lalu istri saya lihat situs ini dan cukup tertarik dengan "full body swimsuit" di situ. Yang rada bikin pusing harganya berkisar 50, 60 bahkan 75 dolar. Tapi begitu di mall lihat bikini, baju renang "biasa" ternyata ya rata-rata 20 dolaran, berarti yang "full-body" bener-bener "good deal" :-), murah dong ........

Terima kasih juga untuk rujukan situs-situs baju renang lainnya.

Original Post