15 July 2005

I, Robot

Dalam adegan di film "I, Robot" (2004), detektif yang diperankan Will Smith menginterogasi "seorang" robot tersangka kasus pembunuhan. Robot ini menganggap dirinya punya perasaan seperti halnya manusia.

Detektif: "Can a robot write a symphony? Can a robot take a blank canvas and turn it into a masterpiece?"
Robot: "Can you?"
Detektif: [glek]

05 June 2005

Masjid dan Mosque

Salah satu "edaran" email (baca kembali Hoax dan Urband Legend) yang menghiasi milis-milis adalah ajakan menghindari penyebutan "masjid" dengan "mosque." Diceritakan dalam email tersebut bahwa "mosque" berasal dari kata "mosquito", yang digunakan oleh pasukan Inkuisitor Spanyol untuk menyebut muslim Andalusia sebagai nyamuk yang dapat ditemukan di masjid. Sumber kisah ini adalah buku "The Idiot's Guide to Understanding Islam" karya Yahiya Emerick.

Saya sudah membaca bukunya Yahiya Emerick tersebut. Saya juga menggemari tulisan-tulisannya yang bernas, dan sudah mengkhatamkan (walaupun sebenarnya cuma "scanning") buku tsb di toko buku :-)

Info "Masjid-Mosquito" ini dalam buku tsb letaknya di pinggiran halamandalam frame tersendiri, entah apa istilahnya, inset atau apa (offside?), yang jelas bukan bagian penting dari buku tsb. Dan sampaihalaman-halaman akhir penulis tetap setia menggunakan kata "mosque." Jadi sekedar "selingan" atau sisipan gitu lho ......

Lha ini kok terus info semacam ini diforward ke mana-mana, malah bertentangan dengan niatan penulis. Ini lebih merupakan "salah paham" daripada "hoax."

Sekarang tinjauan etymology (akar kata) istilah-istilah ini:

Dari kamus American Heritage
mosque
NOUN: A Muslim house of worship.
ETYMOLOGY: French mosquée, from Old French mousquaie, from Old Italian moschea, from moscheta, from Old Spanish mezquita, from Arabic masjid. See masjid.

masjid
NOUN: A mosque.
ETYMOLOGY: Arabic, from Aramaic *masgid, place of worship, from sged, to bow down, worship. See sgd in Appendix II.

mosquito
NOUN: Inflected forms: pl. mos·qui·toes or mos·qui·tos
Any of various two-winged insects of the family Culicidae, in which the female of most species is distinguished by a long proboscis for sucking blood. Some species are vectors of diseases such as malaria and yellow fever. Also called Regional skeeter. See Regional Note at possum.
ETYMOLOGY: Spanish and Portuguese, from diminutive of mosca, fly, from Latin musca.

21 May 2005

Strategi Baru Antiterorisme: Feminisme

Dalam artikelnya di alternet.org yang provokatif ini, Barbara Ehrenreich berpendapat bahwa usaha serius dan berkesinambungan untuk melindungi hak-hak asasi manusia (HAM) bagi perempuan seluruh dunia dapat menjadi awal bagi pendekatan baru melawan terorisme.
Misalnya:
  • mendanai pendidikan anak-anak perempuan di negara seperti Pakistan yang tingkat buta hurufnya 26%
  • beasiswa bagi perempuan untuk pendidikan yang lebih tinggi (universitas dll)
  • pemberian suaka bagi yang melarikan diri totalitarianisme gender
  • perang global melawan "trafficking of women"
Penulis juga menyarankan, "kalau istilah 'feminisme' bikin gatal di telinga, coba istilah lain: hak-hak perempuan."

*Original Post

08 April 2005

Sex Ed Semenjak Dini

Al-jazeera menurunkan berita "Egyptian cleric slams sex education", Syekh Al-Azhar mengecam pendidikan seks.

Saya kira judul berita al-jazeera ini terlalu umum. Sex ed sudah pasti diajarkan semenjak awal. Apalagi masyarakat fikih-oriented, mau tidak mau menyinggung ini. Masih ingat ketika di SD, mulai dari pelajaran wudhu, salat, puasa, anak-anak muslim sudah akrab dengan istilah jima', mani, haid. Yang lebih "advanced", yang belajar hadis arbain imam Nawawi, sampai ke nomer 24, "bersetubuh dengan istri juga sedekah." Ustadz yang baik tentu tidak akan melompat ke nomer 25 hanya gara-gara ada unsur "sex ed" ini, tetapi akan memperlakukan murid-muridnya sebagaimana mestinya. Di surau, kami bertanya kepada pak ustadz, ketika dia menerangkan yang wajib puasa adalah anak laki2 yang sudah "bermimpi." Mimpi apaan? :-)

Sekarang menanggapi kecaman Syekh al-Azhar tentang pengajaran "safe sex" dan aborsi mestinya dilihat konteksnya. Misalnya MUI menyarankan "safe sex" untuk pasangan suami istri
yang terkena HIV/AIDS. Aborsi sudah dibahas para imam mazhab berabad-abad yang lalu. Ternyata Syekh Tantawi juga memberikan guide line:
'sex education should be taught "in a way that doesn't stir instincts, or offend public morality".'
Baru minggu lalu, saya menemukan buku "sex ed" untuk anak-anak, saya kira untuk usia dini, lengkap dengan gambar anatomi organ laki-laki dan perempuan. Tidak ada masalah untuk yang ini. Ternyata ada juga bab proses "pembuahan" termasuk gambar visual di tempat tidur. Saya dan istri masih mikir-mikir untuk menunjukkan buku ini ke anak-anak usia SD.

*Original Post

21 February 2005

Mentalitas "Blame the Victim"

Perempuan diperkosa?
  • Itu akibat emansipasi kebablasan, karena pakai baju merangsang.
Afrika kelaparan?
  • Itu akibat diam saja dibodohi pemerintahnya, mau-maunya tinggal di situ, tidak ada persiapan menghadapi paceklik.
Bencana tsunami?
  • Itu akibat wilayahnya jadi obyek wisata seks.
Kecopetan?
  • Jangan naik bis kota, jangan taruh dompet di saku celana, ....., jangan bertampang punya uang.
Istri dihajar suami?
  • Itulah kalau berani membantah, tidak taat, patuh dan nurut pada suami.
Irak diserbu Amerika?
  • Makanya jangan bilang punya senjata pemusnah massal kalau tidak punya. Kalaupun tidak punya, salah sendiri tinggal di gurun pasir yang di bawahnya ada cadangan minyak bumi besar-besaran.

Anda jadi korban? Anda salah karena Anda korbannya!

"Perhaps we can't see the victim as innocent, because by so doing we would have to admit that similar things might happen even to us. We blame the victim in order to feel more in control." Anyara

*Original Post