19 April 2003

Bias Gender dan Buku Bacaan Anak-Anak

Sebulan sekali, jumat ketiga tiap bulan, saya mengantar anak-anak untuk acara membaca bersama di toko buku. Ada juga acara serupa di minggu yang lain di perpustakaan umum.

Jumat sore lalu, sembari menunggui anak-anak, saya perhatikan rak buku anak-anak. Ada rak spesial "Hanya Untuk Anak Perempuan" dan di baliknya "Hanya Untuk Anak Laki-laki." Judul-judul buku untuk anak perempuan misalnya dongeng putri-putri Cinderella, Putri Putih Salju, buku harian/jurnal dan semacamnya. Sedangkan judul-judul buku untuk anak laki-laki misalnya kereta api, pilot, insinyur dan lain-lain. Tidak jauh dari rak itu ada lagi rak untuk anak-anak tanpa menyebutkan gender, dengan judul-judul seperti Spiderman, Ensiklopedi, Dinosaurus, dll.

Anak-anak saya perempuan usia awal SD, dan saya berkerenyit dengan pemisahan rak spesial tersebut. Banyak judul buku yang diperuntukkan anak laki-laki di toko buku itu juga dikoleksi di perpustakaan rumah. Tapi di lain pihak, saya juga merasa buku-buku untuk anak perempuan itu sepertinya tidak bakal banyak diminati oleh anak-anak laki-laki. Satu hal lagi, beberapa buku yang tidak tersedia di rumah kami, seperti Spiderman, Pokemon, dan superhero lainnya ternyata termasuk buku-buku "nongender."

Adakah kaitan judul buku dan gender? Sejak usia berapakah anak diarahkan membaca buku "sesuai dengan gendernya"?

*Original Post

28 January 2003

Terpidana, dan tetap mengasuh anak

Lembaga Pemasyarakatan North Carolina merencanakan fasilitas yang berfungsi menampung narapidana perempuan dan anak-anak mereka yang belum berusia 9 tahun. Dengan demikian napi tetap dapat memelihara anak-anaknya sambil memperbaiki diri. Statistik Lembaga menunjukkan para ibu yang mendapatkan bantuan selama menjalani hukuman, lebih sedikit kemungkinannya akan berbuat kriminal lagi. Demikian pula anak-anak mereka sedikit yang tumbuh besar menjadi seorang napi juga.

*Original Posting

22 November 2002

Berdirinya Masjid Kami

Artikel Khusus Bulan Ramadhan 1423 H
Milis keluarga Islami, Wanita Muslimah, MajelisMuda dan Ekonomi Islam

Masyarakat Muslim Raleigh, NC, circa 1998

Semenjak pertama kali datang ke kota Raleigh, North Carolina, lima tahun yang lalu, saya tinggal tidak jauh dari masjid Raleigh. Saat itu bangunan masjid menjadi satu dengan sekolah Islam untuk kelas 1 sampai dengan kelas 5. Ruangan masjid yang berada di lantai atas berkapasitas 300 orang itu mulai tidak mampu lagi menampung seluruh jamaah salat Jumat yang membludak lebih dari 600 orang. Jamaah meluber ke anak tangga, ke lantai bawah, sampai ke parkiran. Karena itu majlis syura segera merencanakan pendirian gedung masjid yang baru di lokasi samping gedung lama. Dengan mendirikan masjid baru, maka gedung masjid lama dapat digunakan oleh sekolah Islam yang akan membuka jenjang SMP (kelas 6-8). Tanah telah tersedia, cukup luas untuk gedung dan parkiran. Kini tinggal dana yang diperlukan sekitar satu setengah juta dolar. Memang tidak harus tersedia saat itu juga, tapi untuk langkah awal dibutuhkan segera 120 ribu dolar sebagai jaminan sesuai persyaratan pembangunan yang ditetapkan kotapraja Raleigh.

Anjuran Membangun Masjid

"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah ), maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan." (Al-Baqarah (2):245)

Banyak juga ayat-ayat senada misalnya 2:261. Rasulullah sendiri mengiming-imingi umatnya untuk membangun masjid di dunia ini agar Allah membangunkan untuknya rumah di surga.

Ayat-ayat dan hadis-hadis anjuran ini disitir berulang-ulang oleh Imam al-Bainonie, imam masjid yang rutin memberikan khotbah Jumat. Menjelang penggalangan dana itu, praktis sebulan penuh empat kali jumatan beliau berkhotbah tentang perlunya membangun gedung masjid yang baru dan pahala orang yang membangun masjid.

Lomba "Pamer" Infak

Kebaikan bukanlah untuk dibanggakan agar dipuji orang. Tetapi tidak berarti kebaikan harus selalu disembunyikan, atau dilakukan sembunyi-sembunyi. Bahkan ada kalanya "pamer" itu perlu. Sahabat-sahabat Rasulullah saw termasuk golongan yang suka berlomba-lomba dan pamer kebaikan. Ketika masyarakat muslim Madinah memerlukan dana untuk jihad fii sabilillah, berbondong-bondong para sahabat menyumbang. Umar bin Khattab datang membawa separuh hartanya, sambil membayangkan, "Kali ini aku bakal lebih unggul daripada Abu Bakar." Tak dinyana Abu Bakar yang dermawan itu datang membawa seluruh hartanya untuk disumbangkan. "Apa yang kau sisakan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar?" Rasulullah saw bertanya. "Cukuplah bagi kami Allah dan Rasul-Nya," ujar Abu Bakar dengan mantap.

Panitia masjid Raleigh mengingatkan jamaah akan riwayat tersebut, dan mulai menggalang dana secara terbuka pada hari Jumat, sebelum mulai khotbah Jumat. Modelnya mirip acara lelang. Dimulai dari "penawaran" tertinggi. "Siapa mau menyumbang 10 ribu dolar?" Beberapa tangan diacungkan. Panitia memberikan mereka secarik kertas untuk menuliskan nama, alamat, nomer telepon dan komitmen sumbangan mereka. Setelah itu penawaran diturunkan. "5000 dolar. Siapa bersedia?" Lebih banyak kali ini yang menyumbang. Kadang-kadang penyumbang diberi kesempatan untuk berbicara sepatah dua patah kata. Seorang mahasiswa dari Mesir berkata, "Saya ada 4000 dolar di tabungan. Saya sumbangkan 1000, dan sisanya untuk sekolah saya dan untuk keluarga." Seorang ayah menyumbang 1000 dolar lalu menanyai anaknya yang remaja berapa dia mampu menyumbang. Sang anak menjawab seketika akan menyumbangkan seluruh tabungannya yang beberapa ratus dolar itu. Seorang petugas kebersihan masjid, sambil bercerita tentang perlunya sekolah Islam untuk anak-anaknya, dia bersedia menyumbang rutin 50 dolar perbulan. Dalam tempo setengah jam terkumpul sumbangan (dalam bentuk pledge) lebih dari 80 ribu dolar. Selain itu beberapa orang lagi menambahkan di luar acara penggalangan dana terbuka ini sehingga kebutuhan 130 ribu dolar dapat dipenuhi.

Himbauan Anak

Di Jumat hari penggalangan dana itu saya hadir di masjid bersama anak saya, Dhea, yang belum genap usia dua tahun. Sementara mengamati para jamaah berlomba-lomba membuat komitmen sumbangan dari ratusan dollar hingga puluhan ribu, saya merasa bersyukur bahwa banyak muslim yang rizkinya berlebih walau terasa kikuk menyaksikan suasana mirip pasar lelang. Tiba-tiba Dhea bertanya, "Papa bawa dompet nggak?" Saya terkejut, anak saya yang baru menginjakkan kaki di Amerika belum setahun, bagaimana mungkin dia "mengerti" soal sumbang-menyumbang dalam bahasa Inggris ini. Saya bilang, "Iya, tapi nanti saja." Maksudnya saya mau menyumbang nanti saja seusai Jumatan dan langsung saya masukkan kotak dana. Sempat pula saya membatin, apa ada malaikat lewat membisiki anak saya agar "mengingatkan" bapaknya.

Selesai salat, saat keluar dari masjid, tidak lupa saya laksanakan himbauan Dhea, memasukkan sumbangan sesuai kemampuan ke keranjang sumbangan. Penasaran saya tanya Dhea, "Kenapa tadi Dhea tanya tentang dompet?" Dengan santai dia menjawab, "Mau lihat foto Dhea dan Mbak Happy." Foto waktu acara akikah Dhea itu memang selalu di dompet saya dan anak-anak selalu minta ditunjukkan kapan ada kesempatan. Ooo begitu.

Mari mendirikan masjid! Mari galang dana untuk masjid kita!

18 October 2002

Putri Imam Abu Hanifah dan Poliandri

Dalam sebuah riwayat mengenai bagaimana Imam Abu Hanifah mendapatkan namanya (nama aslinya Nu'man bin Tsabit bin Zuta bin Mah), ada kisah tentang mengapa seorang istri dilarang mengambil lebih dari seorang suami (poliandri).

'Abu Hanifah' bukanlah nama yang umum karena berarti 'ayah dari Hanifah' dan Hanifah adalah putrinya. Bukanlah suatu kebiasaan di jaman itu untuk menisbatkan seperti ini. Yang biasa, nama seseorang adalah 'ayah dari nama anak laki-laki.' Kisah terjadinya hal ini sangat menggelitik.

Suatu hari sang Imam besar mendapat sebuah pertanyaan yang, untuk pertama kalinya dalam karirnya yang gemilang, tidak dapat dijawabnya. Pertanyaan tersebut adalah, "Mengapa wanita dilarang menikahi lebih dari satu suami pada saat yang sama?"

Hanifah, putri sang Imam, bilang bahwa dia tahu jawabannya dan akan memberikannya jika ayahnya berjanji, kalau si putri berhasil memecahkan masalahnya, untuk menjamin baginya satu tempat dalam sejarah. Abu Hanifah setuju.

Lalu Hanifah mengumpulkan sekelompok wanita dan memberi mereka masing-masing sebuah cangkir. Kemudian dibawanya semangkok besar susu dan dimintanya tiap-tiap wanita itu mencelupkan cangkirnya dan mengisinya dengan susu. Mereka melakukannya.

Dia kemudian meminta para wanita untuk menuang kembali susu ke dalam mangkok. Mereka melakukannya juga. Dia lalu meminta mereka mengisi kembali cangkir-cangkir mereka hanya dengan susu yang mereka tuang kembali ke dalam mangkok. Tentu saja hal ini tidak mungkin.

Hanifah telah menunjukkan dengan jelas kesulitan yang bakal terjadi kalau seorang wanita memiliki beberapa suami. Dengan lebih dari satu suami, apabila hamil maka dia menghadapi kesulitan luar biasa menentukan siapa sebenarnya ayah di bayi. Identifikasi orang tua dan jalur keturunan akan menjadi masalah tak terpecahkan bagi keturunannya. Imam Abu Hanifah sangat puas dengan jawaban putrinya sehingga dia mengambil nama 'Abu Hanifah'. Dengan demikian sang putri mendapatkan tempatnya dalam sejarah.

Ketika membaca argumentasi Hanifah, saya juga berpikir bahwa jawabannya sudah out-of-date untuk ukuran jaman DNA ini. Apakah perlu diupdate? Sementara poligini sudah kehilangan justifikasi, masihkah perlu mencari-cari alasan pelarangan poliandri?

Saya justru lebih tertarik pada "keberanian" Imam Nu'man untuk mendapat gelar dengan nama putrinya ini. Barangkali juga sang Imam sangat bangga dengan kecerdasan putrinya, sehingga seakan-akan "ngalap berkah" membawa-bawa nama Hanifah.

Saya tidak tahu apakah ada pendahulu Imam Abu Hanifah yang memulai "revolusi" kun-yah (penamaan dengan nama anak laki-laki seperti Abu Ammar, Abu Daud, atau nama bapak seperti Ibnu Umar, Ibnu Abbas) dengan melakukan terobosan memakai nama anak perempuan?

Dalam album Haddad Alwi sedikitnya Rasulullah saw disebut dengan dua macam: Abu Qasim (nama anak laki-laki beliau yang meninggal waktu kecil) dan Abu Az-Zahra (gelar Fatimah). Yang kedua ini "revolusioner", tapi saya heran mengapa bukan Abu Zainab (putri sulung beliau), sehingga timbul "kecurigaan" bahwa syair lagu itu dikarang oleh para pecinta Ahlul Bait. Atau mungkin pula sekaligus revolusi kedua: yang dipakai tidak harus nama anak pertama?

btw, apakah Nabi Isa as bisa dikatakan melakukan "revolusi" lainnya? Soalnya beliau selalu disebut Ibnu Maryam. Selain itu belum pernah tahu ada yang mengikut nama ibunya.

Dalam tradisi Jawa keluarga saya, masih dikenal sistem "kun-yah" seperti ini. Ayah saya dijuluki Bapakne Erry (nama kakak saya, anak sulung) oleh nenek saya. Prinsipnya sama dengan masyarakat Arab, Pak-e Tole (bapak anak laki-laki) seperti Pak Unyil. Generasi saya mungkin sudah jarang sekali menggelari diri/digelari dengan Pak-e Tole begini. Kalau memang Halida nantinya secerdas putri sang Imam, tidak ada salahnya saya "ngalap berkah", menepuk dada "Ini lho bapaknya Halida" :-))

Tapi tunggu dulu, di mana tempat untuk anak-anak saya lainnya? Saya ingat ketika seorang Sahabat Rasulullah ingin menghadiahi salah satu anaknya lebih daripada anak-anaknya yang lain, beliau saw langsung melarangnya. Demikian pula, bagi saya tidak sepatutnya hanya nama salah satu anak disandang. Apalagi misalnya hanya anak laki-laki.

* Original Posting: [1], [2]

04 October 2002

Citra Islam

Pekan lalu di Republika ada tulisan Ade Armando berjudul "Mengubah Citra Islam." Isinya tentang berbagai tuduhan miring penginjil Pat Robertson dan tangkisan dari lembaga advokasi Islam di Amerika, CAIR. Sementara CAIR bekerja keras membela Islam yang dicitrakan penuh dengan kekerasan dan intoleransi, di tanah air berlangsung kekerasan terhadap jamaah Ahmadiyah di Lombok.

Saya bukan hendak membahas tulisan Ade Armando, Pat Robertson, CAIR ataupun Ahmadiyah, tapi ingin memfokuskan pada "citra Islam" skala lokal.

Di masjid Raleigh, North Carolina, semenjak peristiwa 911 tahun lalu, marak diskusi di masjid membahas peristiwa itu, berlanjut dengan persoalan advokasi muslim yang mendapat intimidasi dan diskriminasi, memperkenalkan wajah Islam yang damai dan toleran, meningkatkan aktivitas kerja sama antar iman (inter faith), serta partisipasi muslim Amerika dalam bidang politik dan pemilihan umum. Sekilas tema-tema besar dan global yang asyik untuk diperbincangkan.

Komunitas muslim di sini cukup baik, rukun dan tidak mengalami intimidasi berarti seperti di beberapa tempat lain di Amerika. Perkembangan jumlah anggota komunitas ini juga tetap baik, secara rutin ada muallaf baru yang mengucapkah syahadatain, di samping masuknya para imigran muslim. Maka wajarlah kalau lama-kelamaan masjid yang didisain untuk menampung
600 orang ini kewalahan dengan tambahan anggota baru, terutama hari Jumat dan malam hari bulan Ramadan.

Pengembangan gedung masjid telah direncanakan, dan untuk itu ijin pengembangannya diajukan ke pemerintah kotapraja. Sesuai dengan prosedur, maka diadakan "hearing" antara pengurus masjid, pemerintah kotapraja, dan penduduk sekitar masjid. Di sinilah, di luar dugaan, di tengah-tengah kesibukan mempromosikan citra Islam, pengurus masjid terpaksa menelan pil pahit karena citra muslim di mata penduduk sekitar masjid.

Masalah utama adalah PARKIR. Di wilayah satu orang satu mobil seperti di sini bikin lapangan parkir seluas apapun, kalau saat jamaah mbludak di hari Jumat tetap saja mobil-mobil luber ke jalanan sekitar. Di sinilah ketidakdisiplinan dan ketidaksensitifan sebagian orang mulai meresahkan para tetangga. Sebagian jamaah seenaknya saja memarkir mobil di depan jalan keluar rumah orang, double parking, parkir di atas trotoar, bahkan yang lebih menyakitkan ada yang berkomentar tidak sedap pada empunya rumah ketika diingatkan. Ketika pengurus masjid berkilah bahwa mereka sudah berulang kali mengingatkan jamaah, dengan sinis seorang ibu sepuh mengatakan lihat saja orang-orang itu bahkan tidak mau mendengarkan pemimpin mereka. Duh sakitnya! Hari ini mereka menyumbat jalan keluar mobil tetangga, bukan tidak mungkin nanti mereka akan lebih kurang ajar lagi, demikian kira-kira di benak para penduduk sekitar. Mayoritas tetangga tidak setuju dengan rencana pengembangan masjid. Pemerintah kotapraja memberikan tenggat waktu 60 hari pada pengurus masjid untuk menertibkan jamaahnya dan akan mengadakan hearing lagi nantinya.

Di awal-awal penggunaan masjid, sering kali pengurus masjid mengingatkan soal parkir bahkah sudah menyiapkan mobil derek untuk memberi pelajaran pada jamaah "nakal." Sayangnya penegakan disiplin ini tidak kontinyu, lebih sibuk dengan diskusi topik-topik hangat. Bagaimana mungkin citra Islam akan meningkat kalau terhadap tetangga saja tidak menjaga akhlak? Pak khatib pun sibuk berkhotbah tentang menghormati tetangga, ayat dan hadis tentang perintah memuliakan tetangga pun berhamburan, akankah ada perubahan? 60 hari tidak lama, apalagi itu termasuk bulan Ramadan, ketika masjid dipenuhi jamaah setiap malam.

Mau mengubah citra Islam? Motto "think globally, act locally" perlu dicamkan. Sebelum muluk-muluk bicara Islam, perdamaian, toleransi, anti terorisme, mari dimulai dengan hal-hal esensial seperti menghormati tetangga.